BEM BSA FAIB official website | Members area : Register | Sign in
Selamat Datang di Website Resmi BEM BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BEM BSA UIN Sunan Kalijaga

Dalam website ini, Anda dapat mengakses berbagai informasi mengenai UIN, FAIB, Jurusan dan BEM BSA diantaranya:

  • Profil, Berita, Agenda, Forum Diskusi dan Staf BEM BSA. Silahkan klik salah satu menu pilihan yang berada diatas halaman ini.
  • Informasi Mengenai Jurusan dan BEM BSA, seperti profil, visi, misi, tujuan, karya ilmiah, aktivitas akademik, Forum Diskusi, kampus, mahasiswa, galeri foto. Untuk lebih jelasnya, silahkan klik salah satu Kategori yang berada di sebelah kanan halaman ini.
  • Apabila ada kritik, saran dan masukan untuk BEM BSA. Anda bisa menghubungi kami langsung secara online dengan mengirimkan pesan ke alamat email atau ke Kantor sekretariat Kami.

Syukron 'Ala Husni Ihtimamikum

Kemah Bahasa dan Budaya 23-25 Desember 2011 By: Forum Arabic language Focus (ALiF) BEM-J BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Arsip

Kategori

Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan

PERUBAHAN DAN PERGESERAN MAKNA

Rabu, 01 Juni 2011

Secara singkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relative singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ini gejala bahasa yang lumrah terjadi dimana-mana, karena bahasa bersifat dinamis. Meski demikian, perubahan makna tidak terjadi pada semua kata, melainkan hanya beberapa kata saja.

1.      Sebab-sebab terjadinya perubahan makna
a.       Perkembangan dalam ilmu dan teknologi.
 Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna C. Umpanya, kata sastra pada mulanya bermakna ‘tulisan, huruf’, lalu bermakna ‘bacaan’, kemudian berubah lagi menjjadi bermakna ‘ buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’. Perubahan makna sastra seperti yang kita sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang sastra itu dalam ilmu susastra.

b.      Perkembangan sosial budaya.
Perkembangan dalam masyarakat berkenaan dengan sikap sosial budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna. Misalnya,
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
Sarjana
Orang cerdik pandai
orang yang telah lulus dari perguruan tnggi
2
saudara
anak yang sekandung
semua orang yang sederajat baik usia/ kedudukan sosial.

c.       Perkembangan pemakaian kata.
Setiap bidang kegiatan atau keilmuan biasanya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidangnya itu. umpamanya dalam bidang pertanian kita temukan kosakata seperti menggarap, menuai, pupuk, hama, dan panen; dalam bidang agama Islam ada kosakata seperti  imam, khatib, puasa,, zakat, dan subuh; dan dalam bidang pelayaran ada kosakata seperti berlabuh, berlayar, haluan, nakhodah, dan buritan. Kosakata  yang pada mulanya digunakan pada bidang-bidangnya itu dalam perkembangan kemudian digunakan juga dalam bidang-bidang lain, dengan makna yang baru atau agak lain dengan makna aslinya, yang digunakan dalam bidang pertanian (dengan segala bentuk derivasinya seperti garapan, penggarap, tergarap, dan penggarapan) digunakan juga dalam bidang lain dengan makna ‘ mengerjakan, membuat’, seperti dalam menggarap skripsi, menggarap naskah drama, menggarap rancangan undang-undang lalulintas. Kata membajak  yang berasala dari pertanian juga, sudah biasa kini digunakan dalam bidang lain dengan makna ‘mencari keuntungan yang besar secara tidak benar’, seperti dalam  membajak lagu, membajak pesawat terbang..

d.      Pertukaran tanggapan indra.
Alat indra kita yang lima mempunyai fungsi masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia ini. Misalnya, rasa getir, panas, dan asin ditangkap dengan alat indra perasa, yaitu lidah; gejala yang berkenaan dengan bunyi ditangkap dengan alat indra pendengar telinga; dan gejala terang dan gelap ditangkap dengan alat indra mata. Namun, dalam perkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukran pemakaian alat indra untuk menangkap gejala yang terjadi disekitar manusia itu. Misalnya, rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas; kata manis yang seharusnya ditanggap dengan alat perasa lidah menjadi ditanggap dengan alat indra mata, seperti dalam ujaran bentuknya sangat manis.
Perubahan tanggapan indra ini disebut dengan istilah sinestesia. Perhatikan contoh lain berikut!
Warnanya teduh
Suaranya berat sekali
Kedengarannya memang nikmat
Lukisan itu ramai sekali
Tinggkah lakunya sangat kasar
e.       Adanya asosiasi.
Yang dimaksud dengan adanya sosiasi disini adalah hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tiu, sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu.
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
amplop
sampul surat
uang sogok
2
bunga
kembang
gadis cantik
3
Mencatut
mencabut dengan catut
menarik keuntungan
Asosiasi dapat berupa hubungan:
  1. wadah dengan isi
Contoh: Pejabat negara dilarang menerima parsel. Bentuk ujaran "parsel" pada contoh kalimat tersebut berasosiasi dengan kolusi dan suap yang dikemas dalam wujud parsel.
  1. waktu dengan kejadian
Contoh: Jalan ke Pantai Ancol macet total karena sekarang tanggal 1 Januari. Bentuk ujaran "1 Januari" berasosiasi dengan tahun baru dan pada tahun baru masyarakat berbondong-bondong ke obyek wisata.
  1. tempat dengan peristiwa
Contoh: Aliansi masa melakukan tabur bunga di Kuningan,Jakarta. Bentuk ujaran "Kuningan" berasosiasi dengan peristiwa ledakan bom yang dilakukan oleh kelompok teroris.
  1. tempat dengan lembaga
Contoh: Para wakil rakyat bertemu di Senayan. Bentuk ujaran "Senayan" berasosiasi dengan lembaga Dewan Perwakilan Rakyat

f.       Adanya Penyingkatan
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan, maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu, maka kemudian orang lebih banyak menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan utuhnya. Misalnya, kalau dikatakan Ayahnya meninggal tentu saja maksudnya adalah meninggal dunia. Jadi, meninggal adalah bentuk singkat dari ungkapan meninggal dunia. Begitu juga dengan kata berpulang tentu maksudnya adalah berpulang ke rahmatullah.
Sebetulnya dalam kasus penyingkatan ini bukanlah peristiwa perubahan makna yang terjadi sebab makna atau konsep itu tetap. Yang terjadi adalah perubahan bentuk kata. Kata yang semula berbentuk utuh (panjang) disingkat menjadi bentuk tidak utuh atau pendek.
g.      Perbedaan Tanggapan
Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. Namun karena pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan di dalam masyarakat, maka banyak kata yang menjadi memiliki nilai rasa yang “rendah”, kurang menyenangkan. Disamping itu ada juga yang menjadi memiliki nilai rasa yang “tinggi”, atau yang mengenakkan. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah ini lazim disebut peyoratif, sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut amelioratif. Kata bini dewasa ini dianggap peyoratif, sedangkan kata istri disebut amelioratif, kata laki dianggap peyoratif berbeda dengan suami yang dianggap amelioratif. Contoh lain kata bang (seperti dalam bang Dul) dianggap peyoratif; sebaliknya kata bung seperti dalam Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Gafur) dianggap amelioratif.

h.      Proses Gramatikal
Proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi (penggabungan kata) akan menyebabkan pula terjadinya perubahan makna. Tetapi dalam hal ini yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna, sebab bentuk kata itu sudah berubah sebagai hasil proses gramatikal. Dalam bagian pendahuluan sudah dibicarakan kalau bentuk berubah maka makna pun akan berubah atau berbeda. Jadi, tidaklah dapat dikatakan kalau dalam hal ini telah terjadi perubahan makna, sebab yang terjadi adalah proses gramatikal, dan proses gramatikal itu telah “melahirkan” makna-makna gramatikal. [9]


i.        Pengembangan Istilah
Salah satu upaya dalam pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosakata bahasa Indonesia yang ada dengan jalan memberi makna baru, entah dengan menyempitkan makna kata tersebut, meluaskan, maupun memberi arti baru sama sekali. Misalnya,
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
papan
lempengan kayu (besi, dsb) tipis
perumahan
2
sandang
selendang
pakaian


2.      Jenis-jenis perubahan
a.       Perluasan Makna (generalisasi)
Perluasan makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama.
Contoh:
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
Bapak
Orang Tua Laki-laki
semua orang laki-laki yang lebih tua atau berkedudukan    lebih tinggi.
2
saudara
anak yang sekandung
semua orang yang sama umur/ derajat.

b.      Penyempitan Makna (Spesialisasi)
Penyempitan makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke yang lebih khusus/ sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula).
Contoh:
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
Sarjana
Cendikiawan
lulusan perguruan tinggi
2
Pendeta
Orang Yang Berilmu
Guru Kristen
3
Madrasah
Sekolah
Sekolah Agama Islam

c.       Peninggian Makna (ameliorasi)
Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tingg/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama.
Contoh:
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
Bung
panggilan kepada orang laki-laki
panggilan kepada pemimpin
2
Putra
anak laki-laki
lebih tinggi daripada anak

d.      Penurunan Makna (Peyorasi)
Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada makna lama.
Contoh:
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
Bini
perempuan yang sudah dinikahi
perempuan yang sudah dinikahi
2
bunting
mengandung
lebih rendah dari kata hamil

e.       Persamaan (asosiasi)
Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna lama dan makna baru.
Contoh:
No
Kata
Sebelum Mengalami Perubahan
Setelah Mengalami Perubahan
1
amplop
sampul surat
uang sogok
2
bunga
kembang
gadis cantik
3
Mencatut
mencabut dengan catut
menarik keuntungan

f.       Pertukaran (sinestesia)
Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya.
Contoh:
suaranya terang sekali             (pendengaran penglihatan)
rupanya manis                         (penglihat perasa)
namanya harum                       (pendengar pencium)

Sebab-sebab Perubahan
Sinestesia, Asosiasi, Metafora, Perkembangan Ilmu dan Teknologi, Perkembangan Sosial Budaya, Perbedaan Bidang Pemakaian, Perbedaan Tanggapan, Adanya Penyingkatan, Proses Gramatikal, Pengembangan Istilah, Generalisasi, Spesialisasi, Ameliorasi, Peyorasi.

Majas metafora adalah ungkapan pemahaman mengenai suatu konsep dalam perbandingannya dengan konsep lain dimana di antara dua konsep itu terdapat kemiripan, keserupaan, atau korelasi dalam hal tertentu. Kemiripan, persamaan, atau korelasi di antara dua hal yang diperbandingkan tidak perlu semuanya, melainkan hanya sebagian kecil saja.
Contoh:
Ayah adalah tulang punggung keluarga.
Ayah dan tulang punggung adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Titik persamaan antara ayah dan tulang punggung adalah sama-sama punya fungsi menopang. Tulang punggung menopang agar badan manusia tegak berdiri, ayah menopang keluarga agar tegak berdiri. Inilah sebabnya kata “tulang punggung” digunakan sebagai metafora untuk menyebut fungsi ayah selaku kepala keluarga yang menopang tegaknya keluarga.
Majas ini sering digunakan dalam karya-karya sastra dan dalam
keseharian. Di samping itu, majas metafora bahasa Ibrani juga sering sekali digunakan dalam Alkitab.
Contoh:
1.      Majas metafora “ujung bumi” berarti: pantai, tanjung, dan semenanjung
2.      Majas metafora “ujung langit” berarti: horison atau “kaki langit”
3.      Majas metafora “Bapa” berarti: Sumber Segala Sesuatu, Asal Segala Sesuatu
Penggunaan majas metafora dalam jangka panjang dapat
mengakibatkan perubahan makna atau pergeseran makna.
Contoh:
semula kata “ekor” hanya bermakna bagian tubuh binatang dsb yg paling belakang, baik berupa sambungan dari tulang punggung maupun sbg lekatan. Kemudian, kata “ekor” digunakan sebagai metafora untuk akibat dari kejadian atau keadaan sebelumnya. Lama-lama kata “ekor” mengalami perubahan makna.Jika semula hanya bermakna “bagian tubuh binatang dsb yg paling belakang, baik berupa sambungan dr tulang punggung maupun sbg lekatan”, kemudian kata “ekor” tersebut mengalami perluasan makna sehingga kemudian mempunyai makna tambahan “akibat dari kejadian atau keadaan sebelumnya”.

MORFOLOGI

Minggu, 29 Mei 2011

Identifikasi morfem
Morfem adalah suatu bentuk yang dapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain. Seperti contoh bentuk [kedua] dapat dibandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut; kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya. Dan contoh meninggalkan dapat dibandingkan dengan bentuk-bentuk lain; meninggalkan, ditinggal, tertinggal, peninggalan, ketinggalan, sepeninggal.
Kemudian untuk mengetahui sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, kita memang harus mengetahui maknanya. Pada contoh menelantarkan, telantar, dan lantaran, bentuk tersebut bukan merupakan morfem karena bentuk menelantarkan tidak punya hubungan dengan lantaran.
Morf dan Alomorf
Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf, baik satu, dua, atau lebih. Seperti contoh berikut, me pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu, men- pada mendengar dan menduda. Meskipun contoh tersebut bentuknya tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaskan secara fonologis.
Morf dan alomorf merupakan dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui setatusnya; sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk kalau sudah diketahui status morfemnya.

Klasifikasi Morfem
Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut;
1.      Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah morfem bebas. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya, juang, henti, gaul, dan baur. Dan semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat. Begitu juga dengan morfem penanda jamak dalam bahasa inggris.

2.      Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Morfem utuh merupakan semua morfem dasar bebas begitu juga dengan sebagian morfem terikat. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Misalnya, bentuk kesatuan terdapat satu morfem utuh, yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}.
3.      Morfem segmental dan Suprasegmental
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental atu semua morfem yang berwujud bunyi, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yangdibentuk oleh unsure-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi.
4.      Morfem Beralomorf Zero (Ø)
Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”. Contoh, bentuk tunggal untuk book adalah book dan bentuk jamaknya adalah books terdiri dari morfem {book} dan morfem {-s}; bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga terdiri dari morfem {sheep} dan morfem {Ø}.
5.      Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren teleh memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain. Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya, yang bias disebut morfem tidak bermakna leksikal adalah morfe-morfem afiks.


Morfemdasar, Bentuk dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)
Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Bentuk dasar atan dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar da;am proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh. Artinya, akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditanggalkan.

KATA
Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Menurut Bloomfield, kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat final. Sedangmenurut Chomsky, kata adalah dasar analisis kalimat atau kata itu berupa symbol-simbol V (verb), N (nominal) A (Ajektiva), dan sebagainya.
Adapun batasan kata yang umum adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.. batasan tersebut menyirat dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau diselang oleh fonem lain. Misalnya, kata sikat. Urutan fonemnya adalah /s/, /i/, /k/, /a/, dan /t/. urutan itu tidak dapat diubah misalnya menjadi /s/. /k/, /a/, /i/, dan /t/. Dan tidak dapat diselipi fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain; atau juga dapat dipisahkan dari kata lain.

Klasifikasi Kata (part of speech)
Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbial, pronominal, dan lain-lainnya.
Para tata bahasawan structural membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktura atau konstruksi. Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi dibelakang kata bukan; atau dapat mmengisi konstruksi bukan….. Yang termasuk verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak, atau dapat mengisi konstruksi tidak…
Penentuan tentang kata-kata berdasarkan kelas atau golongan memang perlu dilakukan.namun kalau sampai kini ternyata menimbulkan persoalan, terutama untuk bahasa Indonesia, kiranya patokan atau kriterianya itu perlu dipikirkan kembalik, dicari yang betul-betul memang bias mengungkapkan cirri yang paling hakiki dari setiap kelas itu.
Pembentukan Kata
Setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutinasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
Pembentukan kata ini mempunyia dua sifat; pertama, membentuk kata yang bersifat inflektif, dan kedua, yang bersifat derivatif.

Inflektif
Kata-kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, untuk dapat digunakan didalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku pada bahasa itu. Alat yang digunakan untuk penyesuaian itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks, sufiks; atau juga modifikasi internal, yaitu perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.
Derivatif
Pembentukan kata secara derivatif berbeda dengan inflektif, pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.
Seperti kata sing terbentuk kata singer ; sing berkelas verba,  singer berkelas nomina.
Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti makanan dan pemakan (sama-sama nomina) tetapi maknanya tidak sama.

PROSES MORFEMIS
a.       Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentu dasar.
Bentuk dasar atau dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar (bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi).
Afiks adalah bentuk-biasanya berupa morfem terikat- yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.
Infiks adalah afiks yang di tambahakan ditengah bentuk dasar.
Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar.
Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.
Sirkumfiks ada yang menggunakan untuk menyebut gabungan afiks yang bukan konfiks, ada juga yang menggunakan untuk konsep yang sama dengan konfiks.
Interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.
Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.
b.      Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, bail secara keseluruhan, sebagian, maupun perubahan bunyi.
Proses ini dapat bersifat paradigmatis dan derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal, sebliknya berlaku pada derivasional.

c.       Komposisi
Komposisi adalah hasil dan proses penggabunagn morfem dasar dengan morfem dasr, baik bebas maupaun terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang baru.
Konversi, modifikasi internal, dan suplesi
Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi  kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi internal adlah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur kedalam morfem yag berangka tetap.
Pemendekan
Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.
Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata.

Produktivitas proses morfemis
Produktivitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relatif tidak terbatas.

MORFOFONEMIK
Adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam sustu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Misalnya dalam proses afiksasi bahasa indonesia  dengan prefiks me- akan terlihat bahwa prefiks me- itu akan berubah menjadi mem-, meny-, meng-, menge-, atau tetap me-, menurut aturan-aturan morfologis tertentu.
Perubahan fonem dalm proses ini dapat berwujud Pemunculan fonem, Pelesapan fonem, Peluluhan fonem, Perubahan fonem, Pergeseran fonem.

Login


Statistik

Entri Populer

 

Hubungi Kami

BEM BSA UIN Sunan Kalijaga
Kantor Sekretariat : Gedung Setudent Center Lt. 2
JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Hp. 082 133 429 589, 085 747 133 321
Email : bembsa.uinsuka@gmail.com

Ingin Menjadi Penerjemah Arab-Indo???

Mari Bergabung Bersama Kami
IMATA (Ikatan Mahasiswa Terjemah)
BEM-J BSA UIN Sunan Kalijaga

Waktu:
Setiap hari Sabtu (08.00 WIB-Selesai)
Setiap hari Kamis (16.00 WIB-Selesai)
Mari Ciptakan Bi'ah al-'Arabiyyah di kampus

ALiF (Arabic Language Focus) BEM-J BSA UIN Sunan Kalijag