BEM BSA FAIB official website | Members area : Register | Sign in
Selamat Datang di Website Resmi BEM BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BEM BSA UIN Sunan Kalijaga

Dalam website ini, Anda dapat mengakses berbagai informasi mengenai UIN, FAIB, Jurusan dan BEM BSA diantaranya:

  • Profil, Berita, Agenda, Forum Diskusi dan Staf BEM BSA. Silahkan klik salah satu menu pilihan yang berada diatas halaman ini.
  • Informasi Mengenai Jurusan dan BEM BSA, seperti profil, visi, misi, tujuan, karya ilmiah, aktivitas akademik, Forum Diskusi, kampus, mahasiswa, galeri foto. Untuk lebih jelasnya, silahkan klik salah satu Kategori yang berada di sebelah kanan halaman ini.
  • Apabila ada kritik, saran dan masukan untuk BEM BSA. Anda bisa menghubungi kami langsung secara online dengan mengirimkan pesan ke alamat email atau ke Kantor sekretariat Kami.

Syukron 'Ala Husni Ihtimamikum

Kemah Bahasa dan Budaya 23-25 Desember 2011 By: Forum Arabic language Focus (ALiF) BEM-J BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Arsip

Kategori

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

قصة

Jumat, 01 Juli 2011


أقام جحا في بعض رحلاته في قرية عدّة أيّام. فكانوا يطعمونه الخبز و الملح فقط. فصلّى به يوما الصبح. فقرأ في الركعة الاولى و بعد
الفاتحة "ياأيّها الذين آمنوا لاتطعموا ضيوفكم الملح بل لحما, فإن لم تجدوا لحما فعسلا, فإن لم تجدوا فعسلا فبيضا. ومن لم يفعل ذالك فقد ضلّ ضلالا بعيدا و خسر خسرانا. وقرأ في الركعة الثانية و بعد الفاتحة "و إن لم تجدوا بيضا فسمكا, فإن لم تجدوا سمكا فلبنا و من لم يفعل ذالك منكم فقد افترى إثما عظيما و مأواه جهنّم وساءت مصيرا" فلمّا فرغ من الصلاة جاؤوا إليه واعتذروا من التقصير في حقّه, و أنّهم لم يكن عندهم علم بأنّ الله أنزل هذه الوصيّة و سألوه : "في ايّ سورة هذه الايات؟" فقال لهم : "في سورة الاكل"

Serenada Tinta yang Tumpah


Serenada Tinta yang Tumpah

Yang ingin kutulis adalah sebuah makna bukan permainan kata biasa yang sering diklaim puitis. Aku tersenyum kecut sedang tanganku masih tetap bergerak lincah di atas keyboard. Lima tahun bukan lah waktu yang cukup untuk melupakan masa itu, bahkan semuanya masih terekam jelas. Tentang kesedihan yang sempurna, membekukan air mata darah dan menumpahkan tinta kehidupan di atas kertas buram. Dan kini aku merasa sudah tidak punya kehidupan lagi. Musnah terkubur oleh perih yang tak berkesudahan.
Sya…
“Berapa usiamu?”
“Masih 19 tahun pak Kiyai,” jawabku polos
“Besok, Resti akan menemanimu membeli apa saja yang kamu perlukan. Bulan depan kamu akan menikah dengan anakku.” Mataku membulat, kaget bukan main.
“Ta..tapi pak…aku…” dengan terbata aku mengumpulkan tenaga untuk mempertahankan sebuah keberadaan yang masih utuh. Tapi sayang, sepertinya beliau tak membutuhkan jawabanku. Beliau beranjak dari tempat duduknya dan aku masih terperangah, bingung. Ada rasa perih yang tiba-tiba menusuk tajam, aku merasa tak punya pilihan hidup. Aku wayang yang tak punya suara walau sekedar untuk mengucapkan satu kata. Aku menahan sedu yang ingin segera kuteriakan sampai akhirnya suara mobil mulai menjauh membawa sosok yang penuh dengan kewibawaan itu. Hanya tangis yang dapat berbicara, mengutuk wanita lemah yang terlalu pasrah dengan titah kehidupan. “Tidak…aku tidak boleh diam untuk memertahankannya!” aku bangkit dengan keyakinan kuat bahwa aku akan mampu memertahankan cinta ini.
Sya…
“Ada apa?” matanya tidak bergeser dari kitab Hikam yang akan diajarkannya selepas dzuhur.
“Maaf pak kiyai…”aku merunduk, segan dan takut bercampur menjadi satu.
“Saya tidak bisa memenuhi kehendak pak kiyai, karena saya sudah punya pilihan” aku malu dengan kelancangan ini, sungguh hal ini adalah sangat tabu sekali bahkan mungkin kali pertama ada santri yang berani menolak perintah Pak kiyai. Tapi sungguh…cinta yang selalu mereka remehkanlah yang memberiku kekuatan untuk itu.
“Siapa?” aku semakin menunduk, membayangkan ekspresinya pun aku tak berani.
“kang Raihan…” jawabku pelan. Beliau tertawa keras dengan nada mencemoh.
“Punya apa dia? Dia hanya punya modal wajah. Otaknya jelas kosong, keluarganya? Kamu punya segalanya nduk, jangan sia-siakan itu dengan pilihanmu yang masih kekanak-kanakan.”
Aku semakin membenci semuanya, apakah memang yang berhak bersuara itu hanya orang tua saja? Maaf akan kelancanganku, tapi sungguh gadis berusia 19 tahun pun punya suara hati dan akal yang seharusnya dihargai. Aku mematung dengan air mata yang sudah tidak tahan lagi ada di tempatnya. Bantu aku…dengan cara apa lagi aku harus memertahankan cinta ini? Cinta yang dibangun di atas altar ketulusan. Apakah dia akan mencemoohkanku juga jika kukatakan demikian? Tahukah kamu…sekali pun aku tak pernah berkhalwat dengannya seperti model pacaran pada lazimnya, jika berpapasan pun aku tak berani menatapnya. Kertas-kertas itu lah yang menjadi saksi semuanya, model percintaan yang mereka anggap kuno tapi aku tak peduli! Yang kutahu sekarang adalah bahwa aku cinta dengan cinta yang tak dapat aku analogikan dengan apapun juga. Sedang kini sebuah hal yang mustahil jika cinta ini bisa sampai ke dermaganya? Harus kah aku membunuhnya? Atau aku harus melemparkannya ke dalam arus ombak? Supaya binasa! Supaya dia puas! Supaya semakin sempurna saja kesedihanku sebab sudah tak mungkin lagi biduk ini kukayuh menuju pulau harapan. Maaf pak kiyai, jika kini aku tidak bisa ikhlas mengikuti kehendakmu yang menurutku terlalu egois bahkan yang paling kusesali adalah keberontakanku ini hanya bisa terucap dalam hati saja. Terlalu menantang maut jika kesakralitasan yang ada kubantai dengan paradigmaku yang mengatasnamakan cinta.
Aku meneruskan ketikanku dengan mata yang semakin membara. Antara marah dan sakit yang sudah sangat berkepanjangan.
Hal yang paring ngiris adalah 2 minggu setelah keputusannya, secara sepihak beliau melemparkanku pada pilihannya yang lain, anak kiyai lain dari desa sebrang. Aku terperanjat, aku berusaha menguburkan penat ini, aku bukan boneka! Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku berasal dari keluarga yang sangat menjungjung tinggi kesakralitasan pesantren. Takzim pada kiyai adalah salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan barokahnya. Mungkin suatu paradigma yang kolot dan tidak rasional jika dipandang oleh kaum intelek tapi bagi kami yang terlahir bahkan terkukung dalam lingkaran ini, adalah suatu malapetaka besar jika kami tidak mengindahkannya. Ibuku hanya berpesan sabar dan meyakini bahwa titah kiyai itu lah yang terbaik sebab sebelumnya ia pasti sudah melakuakan istikharah berulang-ulang. Tapi adilkah untukku dan untuk dirinya? Atau aku juga diharamkan untuk mempertanyakan keadilan?
“Mungkin Ibumu dan pak Kiyai benar, aku memang tidak tahu diri ingin memetik bunga di taman sedang masuk ke tamannya saja aku tak layak!” aku hanya diam, sungguh perih mendengar kata-katanya terurai. Jika memang dibandingkan dengan putra pak Kiyai, kang Raihan memang tidak punya apa-apa. Tapi satu hal yang membuatku terkagum-kagum adalah hijrahnya yang penuh dengan perjuangan. Meninggalkan hal tak terpuji yang dulu digelutinya menuju jalan Tuhan. Ketika malam, ia berusaha meninggalkan sebatang rokok dan segelas kopi di warung belakang pondok dengan rakaat tahajud, ketika pagi ia meninggalkan bantal di kamar mesjid menuju helaian surat Tuhan.
Tapi tak ada artinya jika aku ceritakan semuanya, sebab sudah terlanjur setia realita mengkhianati asa. Aku hanya bisa berkata dengan tinta untuk mengobarkan ekspresi hati yang pada masanya kelak tintanya kan luntur dan kertasnya kan kusam dengan tetesan air mata yang berulang-ulang mengalirinya.
Sya…
Aku mati dengan gaun pengantinku yang menurut teori baju impian semua perempuan. Sesaat sebelum akad dimulai, aku masih sempat melihat matanya yang semakin layu tapi aku segera mengalihkannya. Ada getir yang ingin aku lembarkan jauh ke negeri entah berantah, ada perih yang tak jua beranjak di beranda hati. Hatiku mati tepat di hari paling bersejarah bagi setiap orang. Mengucapkan ikrar untuk lelaki yang baru saja dikenal, adakah yang bisa mengabstraksikan bagaimana sakitnya ketika orang yang kita cintai berdiri terpatung menyaksikan pernikahan kita dengan orang lain?
Ya Allah…apakah kau memvonis hatiku berzina? Maaf tapi aku benar-benar sudah kehabisan cara untuk membunuh rasa yang sudah terlanjur hidup. Ketiadaannya ternyata tak membuat cintaku surut, keberadaan penggantinya pun tak membuatnya enyah dari hatiku. Jika sudah begini, lalu siapa yang berhak disalahkan?

5 February 2011
Dalam ibaku pada tangisan getir seorang sahabat.
Syauqi F el'Taz...

Laela dan Biji Salak

LAELA DAN BIJI SALAK

Gadis manis bertahi lalat di dagu itu berhasil memisahkan diri dari rombongannya; para gadis yang membalut tubuhnya dengan sarung, rapih. Menutup bagian tubuh lainnya dengan kaos panjang yang warnanya senada dengan kerudungnya , menyembunyikan mahkota kepalanya hingga menjuntai menutup dada. Mereka bersama hendak menuju makom , mengaji.
Laela berhenti dari lari-lari kecilnya setelah teman-temannya jauh dari pandang matanya. Berbelok dan beristirahat di belakang tembok jalan merupakan tempat yang aman dan nyaman tuk melepas nafas yang terengah-terengah. Kakinya terasa pegal setelah beberapa menit dibawanya berlari-lari kecil di atas sandal kayunya. Dia mengganti posisi Alquran ke dekapan tangan kirinya karena tangan kanannya sekarang harus melambai memberhentikan andong. Wajahnya yang manis semakin manis ketika dia tersenyum, duduk dan berangkat menuju pesisir pantai bersama andong itu.
Senja pesisir pantai menyambut kedatangan Laela. Dia turun dari andong dengan berhati-hati. Ketika ia menunduk, kakek pembawa andong memperhatikannya, melihat kerudung putihnya menjadi kuning kemerah-merahan disentuh matahari senja. Laela memberi upah, mengucap salam dan berbalik arah mendekati gigir pantai.
Sinar matahari mencipta air laut terlihat beriak-riak, berkerlip-kerlip indah. Merekah senyum Laela saat buih-buih air laut mencumbui jemari kakinya. Dekapan pada kitab suci yang begitu diagungkannya semakin erat. Matanya menatap jauh, jauh ke depan hingga seolah-olah laut berujung dan ujungnya yang terhampar panjang bersentuhan dengan langit.

Di tengah bentangan laut yang mahaluas, di atas perahu kayu, hanya seorang lelaki tua pendiam pemilik perahu itu yang menemaninya. Hening rasa hidupnya kini. Desiran angin laut yang lembut sengaja membuat suasana semakin indah. Dibukanya Alquran berbalutkan kain bercorak emas. Disusurinya suroh per suroh dan berhenti pada tulisan “Suroh Maryam”, dan ia begitu mentadabburi ketika sampai pada ayat 19-21.
19. Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci."
20. Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
21. Jibril berkata: "Demikianlah." Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."

********

Senja kali ini tak sehening dan seindah senja sembilan bulan yang lalu, saat gadis suci merunduk mentadabburi kalimat Ilahi. Di pelataran pesantren Assalafiyah sedang gaduh, cacian dan makian berhamburan dari keluarga besar Kiai Abbas yang masyhur dengan karomahnya, kepada seorang perempuan suci. Yang dicaci dan dimaki hanya menunduk diam dengan menahan isak tangis yang amat pedih. Para santri yang lalu-lalang pun akhirnya serentak berhenti, heran dengan apa yang tengah mereka saksikan.
“Kau mengatakan tidak pernah tidur dengan Sodiq, tapi kau mengatakan kalau bayi haram ini anaknya!! Hah,, bodoh sekali!! Tak masuk diakal!” Seorang perempuan berbadan melar terbalut gamis membentak. Laela hanya menunduk menahan sakit. Dua kakak perempuan laki-laki yang dituduh ayah bayi itu pun ikut melakukan hal yang sama pada Laela.
Kiai Abbas beserta istrinya masih terdiam menyaksikan semuanya yang terjadi dengan tiba-tiba. Nyai Romlah meremas tangan dan menatap suaminya, Kiai Abbas, seolah meminta untuk segera melakukan sesuatu. Suaminya memandangnya sebentar dan kembali menatap Laela yang tengah duduk tertunduk, dihakimi putri-putrinya. Nyai Romlah tidak tahan berlama-lama menyaksikan pertunjukan ini, malu karena para santri sudah mulai bergerombol memenuhi pelataran demi menyaksikan pemandangan langka ini. Dia meyibak tiga putrinya dan merundukkan diri mengangkat wajah Laela yang penuh dengan air mata. Di sana ia menemukan sepasang mata yang jujur. “tak mungkin gadis ini berbohong”batinnya. Seorang santri yang dulu masyhur dengan kesalafannya. Tapi di sisi lain dia tak percaya jika putranya, Sodik, yang dikenalnya seorang anak yang berbakti pada orang tua dan keagamaannya mumpuni melakukan perbuatan hina.
Nyai Romlah meraih tangan Laela memintanya berdiri. Dia membawa perempuan dan bayinya itu mendekati Kiai Abbas. Sekilas Nyai Romlah melihat bayi mungil itu, namun ia tak berani lagi memandangnya karena dua mata itu sama persis dengan mata bayi laki-lakinya dulu, Sodik.
Laela langsung duduk berlutut setelah sampai di hadapan Kiai Abbas, orang yang teramat dihormatinya sebagai guru dan tokoh masyarakat yang disegani. Suasana yang tadinya riuh tiba-tiba menjadi tenang.
“Nduk,, jawab pertanyaan abah. Bayi siapa itu?”
“Bayi saya dan Gus Sodiq yang berarti cucu panjenengan” jawabnya dengan masih tertunduk dan semakin erat memeluk bayinya.
“Sejak kapan kamu berhubungan dengan Sodiq?”
“Kami tidak pernah bertemu apalagi untuk menjalin sebuah hubungan” Jawab Laela mantap.
K. Abbas mengerutkan dahi namun tersenyum. Terdengar bisik-bisik para santri bergemuruh. Ketiga kakak perempuan Sodiq memandang benci, sedang Nyai Romlah tetap terdiam, bingung dan makin tak mengerti.
“Lantas, kenapa kamu mengatakan bayi ini adalah bayi putraku?”
Laela terdiam.
“Hah… sudahlah bah, perempuan kotor ini hanya ingin mengaku-ngaku saja karena pasti dia telah ditinggal para lelakinya!!!” putri keduanya beringsut dengan suara lantang. Kakaknya pun kini ikut merangsek ke depan “Desa Kubah Hijau ini telah terkotori oleh pelacur murahan ini! Bakar saja dia beserta bayinya!”
Gemuruh suara meng-iyakan terdengar dari para santri yang tidak senang dan dulunya iri pada Laela, seorang santri yang selalu diperbincangkan para santri putra karena kecerdasan dan keanggunannya. Nyai Romlah beserta suaminya terkejut dengan semua itu.

Kayu-kayu sudah tertumpuk di halaman rumah Kiai Abbas. Tak ada rasa gentar sedikit pun pada diri Laela, karena dia tahu Tuhan Maha Tahu atas segalanya. Dia berdiri kokoh di tengah halaman di depan kayu-kayu yang dipersiapkan untuk melahap habis tubuhnya. Diciumnya kening bayinya, gamisnya melambai diterpa angin. Dia mendongak menatap kayu-kayu bakar, bertasybih dan bertakbir dengan suara lirih dan penuh kepasrahan.
Minyak gas menghujani kayu-kayu pesakitan, dan satu lemparan percikan api menyala dan berkobar-kobar mengganas. Laela yang berada beberapa depah saja di hadapannya merasakan udara panas dan keringat mengalir membanjiri tubuh di balik gamisnya. Namun tiba-tiba jiwanya menyejuk bagaikan tanah di pagi hari yang mendapat tetesan bening embun subuh demi mendengar suara Nyai Maryamah ibunda Kiai Abbas yang berarti Nyai Sepuh di desa Kubah Hijau.
Nyai Maryamah bagaikan Imam pada sholat jama’ah.Tak kan ada kata yang berani melebihi kata-katanya dan tak akan ada gerak yang melebihi geraknya. Seorang manusia yang menggunakan huruf-huruf dan bahasa Tuhan hanya untuk dan menuju pesannNya yang tersirat dalam kitab Agung Tuhan.
“Ada apa ini Abbas?”
“Hatur pengapunten Ummi, keributan ini bukan merupakan bagian kesengajaan Abbas. Maryam, perempuan itu mengaku telah melahirkan bayi Sodiq”
Kening Nyai Maryamah mengernyit sebentar namun ada senyum di balik bibirnya, karena dia tahu cucunya yang satu itu tidak diketahui rimbanya,tidak jelas keberadaannya dan apa mungkinkah hal itu terjadi?.Cucunya yang ia ketahui sebagai seorang manusia yang memiliki keistimewaan menurut mereka pada umumnya. Seperti yang pernah Nyai Maryamah ketahui sendiri ketika dia berkunjung ke rumah Tuhan di tanah suci, dia bertemu Sodiq yang melambai-lambai dan cengengesan padanya, ”Mau numpang sholat di sini juga Mbah Nyai”namun ketika selesai sholat dia menghubungi dan menanyakan keadaan keluarga di desa Kubah Hijau, K. Abbas mengaku baik-baik saja dan sedang bersama Nyai Romlah, Sodiq dan putri-putrinya.Hal yang membuat Nyai Maryamah tercengang, karena tidak hanya sekali dia menemukan keganjilan pada cucunya itu.
Nyai Maryamah melangkahkan kaki mendekati perempuan beserta bayinya itu. Laela diam menunduk. Suasana halaman pesantren yang begitu luas menjadi tegang terbawa sikap Ny. Maryamah. Pandangan beliau mengitari segala penjuru yang dipenuhi para santri dan kayu yang masih menyala-berkobar.
Setiap jiwa tersentak ketika Ny. Maryamah berteriak tak terkecuali laela yang berada di sampingnya. “Shodiq! Keluar kamu! Mbah Nyai tahu kau ada di sini dan melihat semuanya”. Angin berdesir membawa tanah beterbangan, menari-nari. “Jika kamu masih tidak mau keluar, berarti kamu setuju dengan apapun keputusan Mbah dengan gadis dan bayi yang diakui adalah anakmu!. “Suasana masih hening, tak ada yang bersuara selain angin yang masih bermain-main dengan tanah dan beberapa helai dedaunan.
Ny. Maryamah kembali memandang sekitar dan mengambil bayi kecil itu dari gendongan Laela. Laela memberikan dengan cemas dan ragu. Ny. Maryamah mengangkat bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya dan kembali bersuara lantang. “Baiklah Sodiq! Ternyata kamu memang setuju dengan apapun keputusan Mbah”. “Lihatlahl Sodiq, dan kalian semua yang menjadi saksi”. Ungkapan Ny. Maryamah dengan berputar di antara putaran halaman yang disesaki ribuan manusia. “Aku akan membakar bayi ini, dan hanya bayi yang terbalut kebenaran ucapan ibunya yang akan diselamatkan Allah. Jika ternyata memang bayi ini bukan bayi Sodiq, maka bersiap-siaplah wahai perempuan untuk kehilangan bayimu”. Gertak Ny. Maryamah di depan wajah Laela. Laela terperanjat, tubuhnya bergetar hingga kakinya terasa lemas. Dia menggenggam tangannya sendiri untuk menguatkan diri, namun bulu matanya sudah basah, air mata meleleh sampai ke danau pipinya.
Ny. Maryamah mulai mengangkat kembali bayi Laela di samping kobaran api yang semakin mengganas. Laela terbelalak dan suasana menjadi agak riuh. Ny. Maryamah tampak tidak sedang main-main. Dia berteriak memandang langit. “Ya Allah,,, Kau adalah saksi yang paling adil dan Kau adalah hakim yang paling bijaksana ketika seorang insan sepertiku sudah mulai lemah”. Dia kembali menjerit dengan melafalkan syahadat tiga kali dan tanpa ragu melemparkan bayi tak berdosa itu ke tengah-tengah lahapan api yang lapar. Ketika lemparan sadis itu, banyak santri-santri yang menjerit , bertakbir, bertahlil dan bahkan ada yang pingsan. Sedang laela hanya bisa memejamkan mata ketika bayi yang dicintanya sampai ke mulut api, tubuhnya lunglai, lututnya menyentuh tanah, genggaman tangannya pun penuh dengan tanah. Dia bersujud dengan deraian air mata yang begitu deras, namun tak ada suara keluar dari mulutnya, tubuhnya bergetar hebat.
Agak lama, suasana kembali hening, Ny. Maryamah tertunduk seperti menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Dia melangkah hendak meninggalkan halaman bersejarah itu, namun langkahnya tertahan ketika mendengar suara menghentikannya. “Tunggu Mbah Nyai!”Ny. maryamah menoleh. Tanpa disadari semuanya, sosok yang menyebabkan terbakarnya bayi itu tiba-tiba berdiri di samping Laela yang masih bersujud-menangis. Langkah Ny. Maryamah terhenti, Laela bangkit dari sujudnya, duduk beralaskan tanah dan air mata.
Sosok itu begitu bersahaja, wajahnya bersinar, benar, dia adalah Sodiq putra K. Abbas yang berkaromah. Kini, Sodiq dan Ny. Maryamah berhadap-hadapan. Sebelum berbicara, ia masih menoleh pada Laela yang duduk lemas di sampingya. Laela sudah tak memiliki tenaga, dia hanya bisa berkata tentang mendung hatinyalewat titik-titik bening yang menghias bulu matanya, sisa tangisannya.
“Mbah Nyai mau ke mana?, apakah Mbah Nyai tak ingin mengetahui jawaban Allah?”Sodiq berkata, dan setiap katanya tak lepas dari uraian senyum.
“Kenapa harus menunggu jawaban Allah jika kau sudah berada tepat di depan mata mbah dan sekian banyak manusia?, katakan Sodiq bahwa kamu tidak pernah melanggar larangan Allah!”
Sodiq masih tersenyum dan menatap Mbahnya dengan kasih, menoleh pada Laela yang lemah. “Berdiri laela, berdiri dan kita berdua akan menjawab pertanyaan ini”. Laela berdiri dengan lemah, keduanya berdiri berdampingan. “Tak usah takut, tak usah gentar, jawab saja pertanyaanku dengan jujur”. Laela hanya mengangguk mendengar papahan Sodiq.
“Adakah laki-laki yang menyentuhmu?”.
“Demi Tuhan yang Maha Suci, aku selalu menjaga kesucianku”
“Kau masih perawan?”
“Bagaimana kau tanyakan itu, jika Yang Suci selalu bergelayut dalam hati?”
“Bayi siapa itu?”
“Bayi kita, Gus”
“Dari mana kau yakin itu bayi kita?”
“Bukankah kau menitipkan sebuah biji salak padaku dalam mimpi? Untuk kujaga, kupelihara?. Aku terima biji salak itu karena Tuhan pun berpesan untuk itu.Apa kau akan mengelak? Menganggapku gila dan mengada-ngada seperti mereka?”
Ucapan Laela terdengar seperti igauan tak jelas di ruang dengar banyak orang, matanya kembali berkaca-kaca. Sodiq hanya menunduk, tak ada yang tahu, dalam tunduknya dia bertasbih dan beruarai air mata mendengar ucapan gadis suci di sampingnya.
Menyaksikan itu, semua orang semakin bingung, logika tak menjamah. Dalam keadaan yang hening itu, tiba-tiba terdengar jerit bayi dari tumpukan kayu yang apinya tiba-tiba padam. Tangan dan kaki bayi menggapai-gapai dengan tangisannya yang membahana. Sontak laela dan sodiq berlari dan berlutut di depan tumpukan kayu bakar yang menggendong bayi mereka yang lucu . Bayi itu tiba-tiba pun berhenti menangis, tergelak. Laela dan Sodiq saling menoleh dan tersenyum, bertasbih, bertakbir. Setiap orang bertakbir, semua orang bertakbir dan pelataran pondok Pesantren Assalafiyah bertakbir, membahana.
Allaahu Akbar
Di antara riuhnya sholawat,
20 Februari ’11,
Hibat Nahwa.


















Identitas Penulis
Nama :Halimah Ali
Profesi :Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Ketua Korp KOMPAK PMII Fakultas ADAB & Ilmu Budaya UIN Sunan kalijaga Yogyakarta
Penanggung jawab buletin KOMPAK PMII Fakultas ADAB & Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Pengurus lokus perempuan “ GERGET “ (Gerakan Gender Transformatif), Yogyakarta
Aktif menulis bersama pengrajin sastra di rumah Kreatif mata pena Yogyakarta.
Alamat Asal :Malang, Jawa Timur.
Alamat Sekarang: Perumahan Polri Gowok, Yogyakarta.
CP :085729846508

Memasuki Dunia Dimensi Empat

Rabu, 29 Juni 2011

Memasuki Dunia Dimensi Empat
Part I
                Sore ini suasana pesantren sedang kacau, teriakan-teriakan santri yang sedang dijajah jiwanya oleh makhluk alam lain terdengar di seantero pesantren. Ayat kursi, sholawat, burdah, dan bacaan-bacaan lain yang dipercaya akan mengusir makhluk penjajah itu telah berkumandang di mana-mana, namun na’as tak ada hasil, mereka malah semakin menjadi-jadi, ada yang ngesot-ngesot sambil menjulurkan lidah beserta suara desisannya yang diprediksikan ia dirasuki jin  ular, ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berpakaian indah dan menghias diri bak sang Hyang Ratu Roro kidul, bahkan ada yang terbang dari dan ke atas aula begitu seterusnya.

       Gerbang pesantren putri yang tengah berdiri kokoh sejak zaman penjajahan kini  terbuka dan tampak K.Shirot pemangku pesantren Al-Amin itu disertai lima santri putra yang dipercaya sanggup mengusir dan membebaskakan para makhluk kiriman itu dari raga para santri putri.Tampak mereka mulai komat-kamit serta mulai memegang tangan gadis-gadis kesurupan itu, mereka meronta-ronta begitu kuat dengan jeritan yang sangat panjang , untung kelima santri putra tadi sangat kuat dan memiliki badan yang besar sehingga bisa mengendalikan semua itu. Alhamdulillah mereka berhasil, suasana pesantren putri tiba-tiba sunyi senyap, sekarang mereka mulai sadar dengan keadaan disekitarnya, beberapa gadis yang yang sadar dirinya tengah berada di depan kang santri dengan keadaan yang tak seharusnya dilihat ajnabiyyah segera melesat ke dalam kamar, malu. Begitulah jika makhluk penjajah itu datang dan merasuki jiwa-jiwa yang tak bersalah beberapa kang santri itulah yang diutus, tak pelak tumbuhlah rasa ketergantungan.

            Malam ini suasana dingin sekali angin malam berhembus sampai ketulang-tulang. Kang Nur, khoddam K.Shirot sebenarnya merasa enggan untuk keluar dari hangatnya balutan sarungnya yang sudah usang, namun karena amanah yang diberikan K.Shirot kepadanya untuk mengontrol pondok putri dia harus rela meninggalkan sebentar saja dewi mimpinya.

            Kang Nur mulai mengontrol, dimulai dari daerah A ”sepi, mungkin gadis-gadis kesetanan itu sudah pada capek teriak-teriak tiap malem” gumamnya sambil menggulung sarungnya persis kayak orang lagi kebanjiran. ”Syukur kalau begitu kang  Nur yang paling guanteng di pondok putri ini bisa bobo lagi dengan tenang he…he….he….” katanya senang. Namun sebelum kembali bertemu dengan dewi mimpinya dia masih harus mengontrol daerah B dan C. Kang Nur semakin mempercepat langkahnya, kini dia menyusuri daerah B, senyumnya mengembang”sepi….”desisnya. Kini dia semakin mempercepat langkahnya menuju daerah C, namun betapa terkejutnya dia saat melihat hal yang sungguh tak pantas terjadi di sebuah pesantren, namun kang Nur langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang tembok pembatas antara daerah B dan C.”kurang ajar..”umpatnya.Dia melihat kelima lelaki yang dipercayai oleh kiai tengah berada dalan keadaan yang memalukan bersama gadis-gadis kerasukan itu.Namun kang Nur bergeming.

            Keesokan harinya kang Nur matur pada kiai bahwa malam ini dia tidak bisa mengontrol “ono opo toh Nur?” Tanya K.Shirot bijak dan agak heran tak biasanya dan hampir tak pernah khoddam tulennya seperti ini “Ngapunten yai, dalem diundang rapat keamanan di kampung” kang Nur berbohong sebenarnya dia hanya ingin K.Shirot mengetahui sendiri kelakuan kelima santrinya yang tengah diberi kepercayaan.

            Benar dugaan kang Nur,  K.Shirot tidak menyuruh santri lain untuk menggantikannya, beliau menggantikan sendiri kebiasaan khoddam kepercaayaannya malam ini. Betapa kagetnya beliau ketika melihat kelakuan beberapa santrinya tengah berada dalam gelimang dosa .”Zainal……!!!”salah satu kang santri yang memiliki nama itu menoleh dan darahnya berdesir ketika tahu itu adalah sosok yang kharismatik, K.Shirot.

            Di ruang tengah disaat di pondok putera kelima kang santri sedang digundul karena kelakuannya yang sungguh bejat, tampak K.Shirot sedang bermusyawaroh bersama para asatiydz. Beliau resah siapa lagi yang kira-kira bisa menyembuhkan para santri putrinya. Para asatiydz hanya menunduk dalam, sepertinya mereka sudah putus asa karena sebelumnya mereka sudah mengundang para kiai lain yang masyhur tentang dunia mistis itu dan bahkan sampai mendatangkan beberapa dukun, namun setelah kepergian mereka, para gadis-gadis


kesurupan itu kembali menjerit-jerit bahkan disertai tertawa yang mengejek. Ruangan itu menjadi sangat sepi, dan hampir juga K,shirot berputus asa. ”Tenanglah hai K.Shirot…..,aku akan membantumu”suara di depan pintu itu sontak mengagetkan seisi ruangan.

            Kini laki-laki tua yang berpostur kutilang (kurus, tinggi, langsing, cacingan he..heee)  itu telah duduk bersama K.Shirot dan para asatydz lainnya.” Sebenarnya namaku adalah Suwaji, penduduk kampungku biasa memanggilku Datuk” laki-laki tua itu memperkenalkan diri dan berjanji bisa membantu keresahan yang dialami K.Shirot saat ini .Begitu senangnya K.Shirot, disaat hampir berputus asa ternyata Allah masih mengutus seseorang untuk keluar dari masalah yang hampir menguras tenaga, dan fikirannya, apalagi ketika mengingat putri kesayangannya yang tak luput dari musibah itu, Neng Fatimah. 
            Penyembuhan yang dilakukan datuk nampak aneh dimata K.Shirot, para gadis kesurupan itu dimandikan dengan kembang tujuh macam diruangan tertutup, Datuk memanggil mereka satu persatu dan malamnyapun seperti itu juga, begiliran setiap malamnya di ruangan yang memang diminta Datuk, ruangan khusus penyembuhan katanya dan tak boleh seorangpun mendekati ruangan itu termasuk K.Shirot, namun K.shirot menepis jauh-jauh prasangkanya karena memang sejak kedatangan Datuk pesantren itu agak tampak tenang, demi kesembuhan santri fikirnya.

            Seperti biasanya setiap malam hari kang Nur selalu mengontrol daerah putri, terbesit rasa penasaran saat melewati kamar yang hanya diterangi cahaya temaram, kang Nur semakin mendekati kamar itu dengan sarungya yang selalu tambah digulung ke atas, tampak beberapa kodok melompat minggir melihat hal itu, takut sawan . Dengan sandal jepitnya yang berwarna coklat, tepatnya berwarna putih namun berubah menjadi coklat,  kang Nur berjalan sangat pelan.”haa…..haaa….haaa” terdengar suara tawa dari kamar itu sontak kang Nur kaget dan langsung mengambil gerakan kuda-kudanya sambil membaca mantra ngawornya “ banyu ates, godong andepan, kukuku kiwo, kukuku tengen, aku adus banyu kang suci, olehe aku adus yo ngene iki” dan langsung mengambil langkah seribunya.

            Paginya kang Nur masih bingung dengan kejadian semalam, dia jadi penasaran apa yang dikerjakan Datuk itu, karena rasa penasarannya yang sangat kang Nur nekat untuk mengintip dari atas atap, betapa kagetnya kang Nur melihat apa yang tengah dilihatnya, datuk sedang memandikan Nila salah satu gadis cantik yang kesurupan, namun gadis itu seperti tak sadar dan hanya diam ketika datuk mulai menikmatinya dari ujung rambut hingga ujung kepala.”bangsat “kang Nur mengumpat pelan . Malam harinya kang Nur juga mencari tahu kenapa setiap malam Datuk memanggil seorang gadis, dan bahkan yang dipanggil hanya gadis-gadis santri yang terkenal cantik, itu informasi yang ia dapat dari mbok yem, perempuan tua yang dipercaya mengurusi makan santri. Benar perkiraan kang Nur, kelakuannya tak jauh berbeda dengan apa yang telah dilihatnya tadi pagi.
***
            Desa dibawah bukit gunung semeru masih menyisakan embun paginya yang terasa sejuk, dan sinar matahari serasa enggan tuk mengusik embun pagi yang sedang bertahta di setiap daun dan ranting. Suara sapu lidi yang kini bertengger di tangan kang Nur yang tengah menyapu di halaman dalem mengagetkan Fatimah dari mimpi indahnya. ”Astaghfirullah…jam lima, kenapa ummi gak bangunin Fatimah” gerutunya yang memang tidak pada siapa-siapa karena hanya dirinyalah yang berada dalam kamarnya, sambil beranjak mengambil wudlu dan bergegas sholat subuh.

            Kang Nur yang sedang menyapu heran melihat neng Fatimah yang terburu-buru, “bade teng pundi neng?” Tanya kang Nur ta’dzym, tapi tetap saja raut mukanya terlihat lucu. ”sekarang giliran Fatimah diobati Datuk kang” jawabnya dengan tersenyum,manis, sontak kang Nur kaget dia tak rela gadis di depannya akan terjamah oleh dukun setan itu. “ada apa kang, tumben wajahnya tegang banget?” Fatimah heran. Sapu lidi itu terjatuh dari genggaman kang Nur,dia semakin mendekat dalam keadaan membungkuk, ” sumpah demi Allah jangan pergi ke sana neng, demi abah neng, demi ummi neng, dan demi semuanya, kang nur mohon Neng” kini kang Nur berkata dengan beruarai mata dan suara bergetar, fatimah bingung sebenarnya apa yang terjadi pada kang Nur.”baiklah kang, selama ini abah telah percaya kepada pean, maka Fatimah yakin pasti semuanya ini ada sesuatunya, apa pean tidak ingin cerita pada Fatimah?”.”Tidak neng,kang Nur takut dan kang Nur yakin pasti abah Neng tak akan lama lagi tahu tentang semuanya”. kang Nur meninggalkan Fatimah dalam keadaan bingung dan terbersit seribu pertanyaan di benaknya. (Bersambung Coy!!!!)

Kursi merah,Akhir Tahun 2008, Tarian tanganku “Hibatun Nahwa”
            Semerbak ucapan kepada sahabat santri ”Happy New Year” do’akan aku di negeri orang
           


           Memasuki Dunia Dimensi Empat
Part II
            Belum hilang seribu pertanyaan yang bergantung dibenak fatimah tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara keributan. ”sepertinya dari pondok putri” gumamnya. fatimah penasaran ia langsung melaju kencang menuju tempat yang teramat gaduh itu. Sesampainya di sana Fatimah hanya mendengar suara berteriak-teriak tak jelas. Yang ia tahu santriwati sedang berkumpul di depan kamar Datuk. “ono opo toh mbak?Siapa yang teriak-teriak itu?” Fatimah bertanya pada salah satu santri. ”Ndak tahu neng,kami juga terkejut tiba-tiba Datuk berteriak-teriak tak jelas “jawab Mala santri asal Dampit itu. fatimah tidak puas dengan jawaban Mala dia menyeruak diantara gerombolan para santri yang kurang lebih berjumlah 200 orang.
           
            Kini Fatimah berhasil berada pada barisan paling depan, kini dia mendengar sangat jelas apa yang dikatakan Datuk. ”mana pondok Al-amin itu, kenapa …..kenapa semuanya menjadi lautan, kemana aku harus melangkah dan melewati sebuah jalan, aku ingin kembalike al-amin menemui gadis-gadis itu!!!”teriak datuk , mengerang, kebingungan. Dia seperti tak melihat apapun disekelilingnya meski para santri sudah memanggil-manggil namanya namun mereka takut untuk mendekat. Fatimah bergegas melaporkan hal inipada abahnya K.Shirot.
           
            K.Shirot yang baru saja selesai melaksanakan sholat Dhuha, kaget dan heran melihat putrinya datang dengan terengah-engah. ”habis maraton Tim?tanya K.Shirot. ”Memang harus maraton bah dan abah juga harus ikut maraton” jawab Fatimah masih dengan terengah-engah. K.Shirot semakin tak mengerti namun fatimah segera menceritakan apa yang sekarang sedang terjadi di pondok putri “Subhanallah..” K.Shirot bertasbih sekarang giliran Fatimah dibuat bingung , dan semakin bingung ketika dia melihat abahnya melakukan sujud syukur, namun dia menggantungkan pertanyaannya sampai abahnya selesai .Setelah k.Shirot selesai beliau menoleh tampak fatimah kaku dengan mulut agak terbuka dan berbentuk ‘O’ . K.Shirot tersenyum bijak dan langsung menggandeng tangan Fatimah. Keduanya menuju pondok putri.
           
            Gerombolan para santri langsung menguak melihat kehadiran K.Shirot, memberi jalan pada beliau dan neng Fatimah. Keduanya berada dibagian depan. K.Shirot menatap datuk yang berteriak-teriak dengan pandangan tajam. Beliau maju beberapa langkah dan mulai memejamkan mata membaca sesuatu, entah apa. Semuanya diam terpaku melihat K.Shirot mulai berteriak pada Datuk. ”Hai datuk, manusia munafik!.” Aneh, kini Datuk menoleh setelah berpuluh-puluh orang memanggilnya namun dia tak pernah merasa, mungkin karena doa yang dibaca k.Shirot. Dia melihat K.Shirot di atas permadani berada di tengah lautan seperti dirinya. ”Duhai K.Shirot bawalah aku kembali bersamamu, bawalah aku bersama permadanimu. Bukankah kau masih membutuhkan aku untuk menyembuhkan para santrimu yang cantik-cantik itu?.” K.Shirot bergeming ”kenapa....kenapa kau diam K.shirot, jika kau tak lekas membawaku batu yang kupijaki ini akan semakin lebur dan aku bisa mati ditelan ombak.”
” Bukankah batu itu yang selama ini menolongmu untuk berbuat hina, menyengsarakan orang-orang yang tak bersalah, karena fikiran dan hati kotormu yang penuh ambisi, kenapa kau tak minta tolong padanya  hah?!!!”
”ha.....ha...ha....,berarti kau tahu bahwa yang mengirim setan-setan itu adalah aku? Ha.....ha....haaa, kau hebat Shirot, kau hebat. Selama ini tak ada yang bisa mengalahkan kehebatanku ha ...ha....ha.... apa yang terjadi apa yang terjadi, Shirot bantu aku shirot bantu aku....ti....tid...tidak........
Tiba-tiba batu setan itu benar-benar melebur, dari langit sana berpuluh-puluh jin berteriak-teriak, dengan berbagai macam bentuk yang menakutkan, terbang mendekati Datuk dan berebut ingin masuk dalam raganya. Di sebrang sana di atas permadani K.Shirot sedang duduk bersila, memutar tasbih, dan membaca entah apa, khusuk sekali.
           
            Pada dunia dimensi empat, suara santri terdengar riuh menyaksikan sesuatu yang sungguh tak mereka mengerti. Yang mereka tahu tubuh Datuk tiba-tiba tumbang, mengejang, kaku, matanya melotot seperti hendak keluar. Dan dari badannya keluar benda-benda tajam seperti paku, silet,jarum dan entah apa lagi tak jelas karena benda-benda itu bercampur darah, amis. Fatimah mundur menutup hidungnya dengan kerudung, tubuhnya bergidik. K.Shirot bangkit dengan sebelumnya mengusap kedua tangannya pada wajahnya. Beliau mendekati Fatimah yang sungguh ketakutan dan benar-benar tak mengerti, memeluknya.
           
            Di sana, di belakang gerombolan para santri yang riuh, seorang laki-laki dengan sarungnya yang masih persis kayak orang kebanjiran, masih ingatkan? Yup benar doski kang Nur. Dan sekarang sarungnya plus ngelinting. Songkoknya miring, bisa dibayangin sendiri di Raudlatul Ulum kayak siapa. Stop gak usah diomongin cukup dibayangin aja. Pandangannya datar, memandang sosok yang terbujur di sana. Selanjutnya Pondok al-Amin diguyur hujan deras dengan halilintar yang menghajar langit, kilat seperti membelah langit. Mungkin para malaikat sedang berpesta pora menyambut  kedatangan Datuk.

Di bawah gedung berpenghuni, Malam 31 Yanuar ‘09
                                                                                Tinta jemariku ”Hibatun Nahwa”
Orang Mati Hanya Meninggalkan Nama Dan Karya
Maka Jagalah Nama Baik Dan Buatlah Karya Sebanyak Mungkin
Semoga purnama menjelang bukanlah sebuah KARYA namun benar-benar ”ADIKARYA”    

Login


Statistik

Entri Populer

 

Hubungi Kami

BEM BSA UIN Sunan Kalijaga
Kantor Sekretariat : Gedung Setudent Center Lt. 2
JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Hp. 082 133 429 589, 085 747 133 321
Email : bembsa.uinsuka@gmail.com

Ingin Menjadi Penerjemah Arab-Indo???

Mari Bergabung Bersama Kami
IMATA (Ikatan Mahasiswa Terjemah)
BEM-J BSA UIN Sunan Kalijaga

Waktu:
Setiap hari Sabtu (08.00 WIB-Selesai)
Setiap hari Kamis (16.00 WIB-Selesai)
Mari Ciptakan Bi'ah al-'Arabiyyah di kampus

ALiF (Arabic Language Focus) BEM-J BSA UIN Sunan Kalijag